Sabtu, 11 November 2017

Soal HOTS IPA Kelas 4 SD/MI

Istilah berpikir tingkat tinggi dalam penyusunan soal untuk peserta didik apabila dikaji secara seksama mendalam pada dunia pendidikan seakan bikin istilah baru, namun sebelum menulis soal berfikir tingkat tinggi sebaiknya pendidik mengetahui apa yang dimaksud dengan keterampilan berfikir tingkat tinggi dan karakteristik instrumen untuk mengukur berfikir tingkat tinggi. Mengetahui dari arti kata yang jarang digunakan mungkin sulit tetapi ini bukannya HOTS kecuali melibatkan proses bernalar (seperti mencari arti kata konteks/stimulus).


Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif.

Berfikir tingkat tinggi merupakan kemampuan berfikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).

Apa yang dimaksud berfikir?

Berpikir tingkat dapat disimpulakn sebagai berikut:
  • Menemukan
  • Menganalisis
  • Mencipta
  • Merefleksi
  • Beragumen

Berfikir Kritis adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah: termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan .
Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan nketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. Dengan kata lain berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.

Berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan
berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan diantaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.

Demi kejelasan materi tersebut berikut ini telah kami sediakan contohnya.

Contoh soal HOTS Mupel IPA Kelas 4 format Words dapat didownload di sini
Contoh soal HOTS Mupel IPA Kelas 4 format Pdf dapat didownload di sini

Demikian ulasan singkat tentang materi Contoh Soal HOTS Kurikulum 2013 Kelas 4 semoga dapat menambah wawasan berpikir bagi pendidik semuanya.

Animasi Media Pembelajaran Matematika dan IPA di SD

Animasi Media Pembelajaran Matematika dan IPA di SD - Dalam penyampaian materi pelajaran di kelas seorang guru diperlukan untuk menggunakan alat peraga dan alat peraga tersebut berfungsi untuk  memperjelas guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

Penggunaan media pembajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam pembelajaran membaca puisi. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran dengan tujuan:
  1. Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna;
  2. Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik,
  3. Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik,
  4. Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/ pendidik,
  5. Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.


Sedangkan Sudjana, dkk. (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah :
  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi,
  2. Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami,
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, dan
  4. Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan media pembelajaran adalah:
  1. Efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar,
  2. Meningkatkan motivasi belajar siswa,
  3. Variasi metode pembelajaran, dan
  4. Peningkatan aktivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Manfaat Secara umum manfaat penggunaan media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu
  1. Media pengajaran dapat menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan,
  2. Media pengajaran dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar anak didik berdasarkan latar belakang sosil ekonomi,
  3. Media pengajaran dapat membantu anak didik dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain,
  4. Media pengajaran dapat membantu perkembangan pikiran anak didik secara teratur tentang hal yang mereka alami dalam kegiatan belajar mengajar mereka, misalnya menyaksikan pemutaran film tentang suatu kejadian atau peristiwa. rangkaian dan urutan kejadian yang mereka saksikan dan pemutaran film tadi akan dapat mereka pelajari secara teratur dan berkesinambungan,
  5. Media pengajaran dapat menumbuhkan kemampuan anak didik untuk berusaha mempelajari sendiri berdasarkan pengalaman dan kenyataan,
  6. Media pengajaran dapat mengurangi adanya verbalisme dalam suatu proses (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) (Latuheru, 1988:23-24).
Sedangkan menurut Sadiman, dkk. (2002:16), media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya
  1. Obyek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film, atau model
  2. Obyek yang kecil bisa dibantu dengan menggunakan proyektor, gambar,
  3. Gerak yang terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography,
  4. Kejadian atau peristiwa di masa lampau dapat ditampilkan dengan pemutaran film, video, foto, maupun VCD,
  5. Objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan;
  6. Konsep yang terlalu luas (misal gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan lain-lain.
Dalam proses belajar mengajar perlu direncanakan dan dirancang secara sistematik agar media pembelajaran itu efektif untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa pola pemanfaatan media pembelajaran, yaitu :
  1. Pemanfaatan media dalam situasi kelas atau di dalam kelas, yaitu media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu dan pemanfaatannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas,
  2. Pemanfaatan media di luar situasi kelas atau di luar kelas, meliputi; (a) Pemanfaatan secara bebas yaitu media yang digunakan tidak diharuskan kepada pemakai tertentu dan tidak ada kontrol dan pengawasan dad pembuat atau pengelola media, serta pemakai tidak dikelola dengan prosedur dan pola tertentu, dan (b) pemanfaatan secara terkontrol yaitu media itu digunakan dalam serangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan untuk dipakai oleh sasaran pemakai (populasi target) tertentu dengan mengikuti pola dan prosedur pembelajaran tertentu hingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut,
  3. Pemanfaatan media secara perorangan, kelompok atau massal, meliputi (a) Pemanfaatan media secara perorangan, yaitu penggunaan media oleh seorang saja (sendirian saja), dan (b) Pemanfaatan media secara kelompok, baik kelompok kecil (2—8 orang) maupun kelompok besar (9—40 orang),
  4. Media pembelajaran dapat juga digunakan secara massal, artinya media dapat digunakan oleh orang yang jumlahnya puluhan, ratusan bahkan ribuan secara bersama-sama. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa seorang guru dalam memanfaatkan suatu media untuk digunakan dalam proses belajar mengajar harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
  • Tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
  • Isi materi pelajaran,
  • Strategi belajar mengajar yang digunakan,
  • Karakteristik siswa yang belajar.
Karakteristik siswa yang belajar yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan siswa terhadap media yang digunakan, bahasa siswa, artinya isi pesan yang disampaikan melalui media harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa atau kosakata yang dimiliki siswa sehingga memudahkan siswa dalam memahami isi materi yang disampaikan melalui media. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan jumlah siswa. Artinya media yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan jumlah siswa yang belajar.

Untuk melengkapi beberapa hal penjelasan di atas berikut ini telah kami sediakan link download Animasi Media Pembelajaran Matematika dan IPA di SD yang dapat dipergunakan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.

  1. Animasi IPA cahaya.rar 
  2. Animasi IPA bunyi.rar 
  3. Animasi IPA benda padat, cair dan gas.rar 
  4. Animasi IPA benda di sekitar kita.rar 
  5. Animasi Bank Soal IPA Kelas 2.rar 
  6. Animasi soal ipa kelas 6.rar 
  7. Animasi soal ipa kelas 5.rar 
  8. Animasi soal ipa kelas 4.rar 
  9. Animasi soal ipa kelas 3.rar 
  10. Animasi soal ipa kelas 2.rar 
  11. Animasi soal ipa kelas 1.rar 
  12. Animasi Mtk uang kertas dan logam.rar 
  13. Animasi Mtk tangram.rar 
  14. Animasi Mtk neraca dan timbangan.rar 
  15. Animasi Mtk mistar bilangan bulat.rar 
  16. Animasi Mtk Media Pembelajaran Kartu Bilangan.rar 
  17. Animasi Mtk kotak pembagian.rar 
  18. Animasi Mtk domino pecahan.rar 
  19. Animasi Mtk dekak-dekak.rar 
  20. Animasi Mtk bilangan romawi.rar 
  21. Animasi Mtk blok pecahan.rar 
  22. Animasi Mtk Berat & Waktu.rar 
  23. Animasi Mtk Batang Bilangan.rar 
  24. Animasi IPA tubuh kita.rar 
  25. Animasi IPA tanah & batuan.rar 
  26. Animasi IPA planet & tata surya.rar 
  27. Animasi IPA pesawat sederhana.rar 
  28. Animasi IPA organ tubuh manusia.rar 
  29. Animasi IPA matahari, bumi, bulan.rar 
  30. Animasi IPA makhluk hiidup.rar 
  31. Animasi IPA magnet.rar 
  32. Animasi IPA gaya dan gerak.rar 
  33. Animasi IPA energi listrik.rar 
  34. Animasi IPA energi dan sumber.rar
Dengan materi Animasi Media Pembelajaran Matematika dan IPA di SD ini diharapkan pelaksanaan pembelajaran semakin lancar. 

Selasa, 07 November 2017

Download Struktur Kurikulum Pendidikan SMK Terbaru

Struktur kurikulum sebagaimana dimaksud merupakan acuan dalam penyelenggaraan di SMK/MAK. Perangkat pembelajaran lain seperti : Kompetensi Dasar pada setiap mata pelajaran, silabus, contoh rencana pelaksanaan pemelajaran dan kelompok kompetensi yang akan dilakukan sertifikasi sitetepakan oleh direktur pembinaan SMK.


Demikianlah informasi tentang SE Nomor 130 tahun 2017 tentang struktur kurikulum pendidikan SMK diseluruh Indonesia. SE ini berlaku mulai tahun pelajaran 2017/2018. Maka seluruh SMK baik Swasta dan negeri silahkan download Struktur Kurikulum 2013 untuk SMK berikut ini.


Senin, 06 November 2017

Contoh Angket Daftar Cek Masalah (DCM) Guru BK

A. Daftar Cek Masalah

Daftar Cek Masalah (DCM) adalah sebuah daftar berisi pernyataan-pernyataan yang merupakan masalah yang diasumsikan biasa dialami oleh individu dalam tingkat perkembangan tertentu. DCM digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang dialami oleh individu, dengan merangsang atau memancing individu untuk mengutarakan masalah yang pernah atau sedang dialaminya.

Dalam hal penulis merancang bentuk DCM sendiri yang merupakan perpaduan dari contoh-contoh DCM yang sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. DCM hasil rancangan penulis ini terdiri dari 240 butir pernyataan dan 3 butir pertanyaan yang terbagi dalam 5 bidang. 4 bidang sesuai dengan bidang bimbingan yakni : 
  1. pribadi, 
  2. sosial, 
  3. belajar dan karir. 
Beberapa aspek yang berusaha diungkap lewat DCM ini adalah :
  1. Kesehatan
  2. Keadaan Penghidupan
  3. Rekreasi dan Hobi
  4. Kehidupan Keluarga
  5. Agama dan Moral
  6. Kehidupan Sosial dan Keaktifan Berorganisasi
  7. Hubungan Pribadi
  8. Muda-Mudi
  9. Penyesuaian Terhadap Sekolah
  10. Masa Depan dan Cita-cita Pendidikan Jabatan
B. Pengertian Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM)

Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) adalah suatu metode untuk mengumpulkan data yang berupa suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya. Setiap pernyataan yang cocok dengan dirinya diisi chek atau tanda-tanda lainnya yang ditetapkan. Sedangkan pernyataan-pernyataan yang tidak cocok dengan dirinya tidak diisi. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) mempunyai persamaan dengan metode kuesioner, yaitu kedua-duanya menggunakan instrumen yang berupa suatu daftar.
Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) instrumen berupa pertanyaan yang harus dipilih oleh subyek sesuai dengan keadaan dirinya. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) merupakan salah satu laporan diri atau deskripsi diri yang dipakai untuk mengetahui adanya masalah yang dihadapai individu secara langsung menggunakan alat-alat tertentu.

C. Kompetensi dan Indikator DCM (Daftar Cek Masalah)

Setelah mempelajari DCM diharapkan peserta bisa memanfaatkan daftar cek sebagai salah satu teknik untuk memahami konseli yang hendak dibimbingnya. Sebagai indikator peserta telah mampu memanfaatkan daftar cek ditunjukkan dalam (a) menyusun daftar cek sesuai tujuan dan subyek yang difahami, (b) mampu melaksanakan asesmen dengan menggunakan daftar cek, (c) mampu melakukan analisis terhadap data hasil daftar cek, dan (d) mampu memanfaatkan data dari daftar cek untuk kepentingan bimbingan.

D. Kelemahan dan Kelebihan Daftar Cek Masalah

1.Kelebihan DCM
  • Metode ini dilaksanakan dan mudah pula cara pemberian markahnya dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan.
  • Pelaksanaan inventori lebih lanjut dapat menimbulkan self kritis pada siswa yang mengisi inventori tersebut.
  • Metode inventori merupakan metode pengumpulan data yang cukup efektif, sebab dapat menjaring data yang cukup banyak dalam waktu yang relatif singkat.
2.Kelemahan DCM
  • Para siswa hanya memberikan respon dalam bentuk verbal saja.
  • Pemgumpulan data terpaksa hanya tergantung kepada kejujuran dan keiklasan para siswa.
  • Seringkali subyek tidak memberikan jawaban yang benar karena adanya beberapa alasan.
E.Langkah langkah dalam pembuatan DCM
  1. Konselor menyiapkan bahan sesuai dengan jumlah siswa
  2. Konselor benar-benar menguasai petunjuk cara mengerjakan
F. Pelaksanaan
  1. Mengontrol situasi ruang
  2. Konselor memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penggunaan tujuan
  3. Memberikan instruksi terhadap siswa untuk mempersiapkana alat-alat tulis
  4. Membagikan lembar daftar cek masalah
  5. Memberikan  instruksi kepada siswa untuk menulis identitas diri dan tanggal pelaksanaan daftar cek masalah siswa
  6. Membacakan petunjuk cara mengerjakan daftar cek masalah
  7. Memberi contoh cara mengerjakan cek masalah
  8. Memberikan instruksi cara mengerjakan daftar cek masalah, dan memperingatkan agar siswa mengerjakan dengan tenang, dan teliti, serta memberitahukan bahwa waktu yang disediakan cukup lam kurang lebih satu jam
  9. Mengontrol apakah para siswa telah mengerjakan daftar cek masalah dengan benar
  10. Mengumpulkan pekerjaan siswa.
G.Fungsi dari DCM
  1. Untuk memudahkan individu mengemukakan masalah yang pernah atau sedang dihadapi.
  2. Untuk mensistimatisasi jenis masalah yang ada pada individu agar memudahkan analisa dan sintesa dengan data yang diperoleh dengan cara/alat lain.
  3. Untuk menyusun program pelayanan konseling agar sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan siswa.
H.Cara Pengerjaan DCM
  1. Siswa diminta menuliskan identitasnya secara lengkap sesuai format isian yang disediakan dalam lembarjawab DCM.
  2. Siswa dipersilahkan membaca item-item yang di dalamnya berisi pernyataan-pernyataan yang mengandung permasalahan-pennasalahan yang biasa dialami oleh individu.
  3. Siswa diminta menuliskan nomer item pernyataan di lembar jawab, jika masalah tersebut sesuai dengan yang pemah dialami atau sedang dialami
  4. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan kerahasiaan akan semua jawabannya
  5. Menginformasikan bahwa hasil DCM akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan (bantuan) pada siswa.
  6. Waktu yang diberikan pada siswa setara dengan satu jam pelajaran, yakni 40 menit.
I.Pengolahan Hasil Instrumen

Dalam pengolahannya DCM ini dapat dianalisa secara kelompok dan individu, sedangkan aspek yang dianalisa adalah per-butir masalah dan per-topik.

1. Langkah-langkah analisa secara individual adalah sebagai berikut :
a. Menjumlah item yang menjadi masalah individu pada setiap topik masalah
b. Mencari presentasi per-topik masalah dengan cara mencari rasio antara jumlah butir yang menjadi masalah dengan butir topik masalah.
  • Nm:Jumlah butir yang menjadi masalah individu dalam setiap Topik
  • N :Jumlah butir pada topik masalah tersebut.
c. Mencari jenjang (ranking) masalah dengan cara mengurutkan % topik masalah mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.
d. Mengkonversikan % masalah ke dalam predikat nilai A, B, C, D, dan E sebagai berikut :
  • 0 %                   = A (Baik)
  • 1 % -10 %        = B (Cukup Baik)
  • 11%-25%         = C (Cukup)
  • 26% - 50 %     = D (Kurang)
  • 51 % -100 %   = E (Kurang Sekali)

2.Langkah-langkah analisa secara kelompok adalah sebagai berikut:

a. Analisa per-butir masalah
  • Menjumlahkan banyaknya siswa yang mempunyai butir masalah yang sama un tuk setiap butir.
  • Mencari prosentase masalah dengan cara mencari rasio antara banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu dengan jumlah siswa
Nm : Banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu.
N    : Banyaknya siswa yang mengerjakan DCM

b. Analisa per-topik masalah
  • Harus diketahui jumlah siswa yang mengerjakan DCM
  • Harus diketahui jumlah butir yang menjadi masalah siswa (dicek)
  • Menghitung Prosentase permasalahan topik
Nm : Jumlah butir masalah yang dicek
N     : Jumlah siswa yang mengerjakan DCM
m    : Jumlah butir dalam topik masalah

J. Penyampaian Hasil

Hasil dari pengolahan Instrumentasi perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait secara langsung dengan responden. Dalam penyampaian hasil instrumentasi ini tetap harus menjaga kerahasiaan, tidak boleh disampaikan/diumumkan secara terbuka dan dijadikan pembicaraan umum.

Dalam forum khusus, hasil instrumentasi dapat dijadikan topik bahasan/diskusi, namun tetap harus menjaga kerahasiaan responden (tidak menyebut nama responden).

Dari keseluruhan penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini hasil yang diperoleh disampaikan kepada masing-masing responden, dalam bentuk Profil Individual, sedangkan kepada Guru bimbingan dan konseling/Kepala Sekolah diberikan Data rekap dan data pendukung lainnya, sebagai bahan untuk pemberian layanan lebih lanjut.

Penyampaian hasil instrumentasi kepada masing-masing responden akan lebih baik apabila disampiakan secara individual, sehingga konselor dapat berkomunikasi dan menjelaskan isi dari laporan hasil instrumentasi yang akan diberikan dalam bentuk format individual, dan sekaligus bagi siswa yang memiliki permasalahan dapat diberikan penjelasan untuk langkah-langkah tindak lanjut berikutnya

K.Implikasi Hasil Aplikasi Instrumentasi Dalam Pelayanan Konseling

Hasil Aplikasi Instrumentasi pada hakekatnya dapat diaplikasikan dalam seluruh spektrum kegiatan pelayanan konseling, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian dan pengembangannya. Bahkan memungkinkan kegiatan Aplikasi Instrumentasi ini merupakan langkah yang menentukan dalam penentuan pemberian layanan konseling. Secara umum Implikasi hasil Aplikasi Instrumentasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Perencanaan Program Konseling.

Penyusunan program layanan konseling di sekolah, baik program tahunan maupun semesteran seharusnya didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil ulangan/ujian, bakat dan minat serta kecenderungan siswa, dan data lainnya yang kesemuanya terkumpul dalam kegiatan Need Assessment.

Hasil Aplikasi Instrumentasi secara jelas telah menunjukkan berbagai data  yang menyangkut kondisi responden, maka akan ditemuka Need Assessment sebagai dasar penyusunan/perencanaan Program Konseling. Dengan data yang lengkap dari Aplikasi Instrumentasi ini dapat dirumuskan Program Konseling secara menyeluruh, untuk setiap kelas, dengan mengacu kepada kebutuhan siswa, baik perorangan maupun kelompok. Pada intinya untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling direncanakan berdasarkan data hasil Need Assessment.

2.Penetapan Peseta Layanan

Berdasarkan data hasil instrumentasi, Konselor dapat menetapkan individu yang perlu mendapat layanan konseling, baik layanan dengan format klasikal, kelompok maupun individual. Kegiatan dengan format lapangan dan “politik” bagi klien tertentu pun dapat direncanakan oleh Konselor dengan mendasarkan pada hasil Aplikasi Instrumentasi ini.

3. Sebagai Isi Layanan

Data yang terungkap dari penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini dapat pula menjadi isi dari layanan konseling.Hal ini disebabkan karena dalam penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi khususnya yang mengungkap tentang hubungan sosial (sosiogram), inteligensi, bakat dan minat dapat dijadikan sebagai isi layanan  Untuk hal ini diperlukan  kecermatan Konselor dalam melihat relevansi antara hasil Aplikasi Instrumentasi dengan kebutuhan Klien dan menggunakannya secara tepat, dengan senantiasa menerapkan asas kerahasiaan sebagaimana mestinya.

4.Tindak lanjut Layanan

Hasil instrumentasi, khususnya hasil evaluasi (laiseg, laijapen dan laijapang) dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi upaya tindak lanjut pelayanan terhadap klien. Kecermatan Konselor terhadap kesesuaian antara hasil evaluasi dan upaya tindak lanjutnya sangat diperlukan.

5.Pengembangan.

Dalam upaya pengembangan layanan konseling, dasar utama yang diperlukan adalah data yang akurat dan handal. Dalam hal ini, data hasil Aplikasi Instrumentasi dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi dapat secara tepat menunjang pengembangan program pelayanan konseling dalam jangka panjang. Dalam hal ini diperlukan berbagai instrumentasi yang komprehensip, dari berbagai kelompok responden dalam jangka waktu yang relatif memadai. Dengan data gabungan tersebut, akan nampak arah pokok yang dapat dijadikan arah dan garis besar pengembangan layanan konseling.

Secara khusus, penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi Daftar Cek Masalah (DCM) yang telah penulis laksanakan, implikasinya dalam layanan konseling dapat dijelaskan bahwa setelah pengolahan data angket DCM ini akan diperoleh suatu gambaran yang berkaitan dengan permasalahan dan kebutuhan nyata siswa, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam merencanakan layanan-layanan yang akan diberikan pada siswa



Sebagai contoh berdasarkan hasil analisa DCM silahkan download pada menu di bawah ini:
  1. Link Download Alat Ungkap Masalah Siswa
  2. Link Download Angket Daftar Cek Masalah
Demikian uraian singkat tentang Angket Daftar Cek Masalah (DCM) Guru Bimbingan dan Konseling (BK) semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung di blog kami ini.
Link terkait lainnya: 

  1. Administrasi Guru BK SMA Kelas X,XI, dan Kelas XII 
  2. Guru Bimbingan Konseling (BK) SMP/MTs 
  3. Guru Bimbingan Konseling (BK) SMP/MTs Kelas 7 ~ 9 Kurikulum 2013 
  4. Materi RPL Bimbingan Konseling SMP Kelas 7

Rabu, 01 November 2017

Download Free Buku Kerja Pengawas Sekolah 2017

Bagi bapak/ibu yang menjabat sebagai Pengawas Sekolah atau sering disebut Pengawas TK/SD, berikut ini kami bagikan materi yang dipergunakan untuk menyusun administrasi bapak/ibu.

Dan sebelum bapak/ibu download materinya alangkah baiknya kami sisipkan terlebih dahulu ulasan yang kami kutip dari buku tersebut adalah seperti di bawah ini.

KATA PENGANTAR

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikkan Nasional Nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, diamanatkan bahwa seorang pengawas sekolah harus memiliki standar kompetensi yang sudah ditetapkan. Kompetensi meliputi: Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Supervisi Manajerial, Kompetensi Supervisi Akademik, Kompetensi Evaluasi Pendidikan, Kompetensi Penelitian Pengembangan, dan Kompetensi Sosial.

Pada tahun 2015, dalam rangka pemetaan kompetensi pengawas sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayakan menyelenggarakan uji kompetensi pengawas sekolah yang diikuti oleh 24.293 pengawas sekolah dari jenis, jenjang, dan masa kerja yang bervariasi. Nilai rerata kompetensi pengawas sekolah adalah 55,24, untuk dimensi supervisi manajerial adalah 57,53, untuk dimensi supervisi akademik adalah 56,06, untuk dimensi penelitian dan pengembangan adalah 54,24, dan untuk dimensi evaluasi pendidikan adalah 53,12, Data tersebut menunjukkan bahwa pengawas sekolah membutuhkan perhatian yang lebih serius dalam peningkatan kompetensi untuk setiap dimensi kompetensi.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan sebagai instansi Pembina melakukan pembinaan pengawas sekolah dengan berbagai strategi, satu diantaranya adalah peningkatan atau penguatan kompetensi pengawas sekolah.
Salah satu upaya untuk penguatan tersebut Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan melalui Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah telah melakukan penyusunan panduan kerja dan menerbitkannya menjadi sebuah buku Panduan Kerja Pengawas Sekolah.

Buku kerja ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, Pengawas Sekolah, dan para pemangku kepentingan pendidikan lainnya dalam melakukan pembinaan bagi pengawas Sekolah/Madrasah. Kami mengucapkan terima kasih kepada Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) yang telah terlibat dalam penyusunan Panduan Kerja Pengawas Sekolah ini

Selengkapnya silahkan download pada menu berikut:
Demikian semoga bermanfaat, dan mohon maaf atas segala kekurangan

LINK TERKAIT MATERI ADMINISTRASI GURU KURIKULUM 2013:
Aplikasi (KBM) Kriteria Belajar Minimal KK-13 SMP/MTs Revisi 2017
Silabus PAIBP K-13 SD Hasil Revisi 2017
RPP Kurikulum 2013 Kelas 5 Tema 1-5
KKM Kelas 1-6 Kurikulum 2013 Revisi Terbaru
RPP Kurtilas Kelas 1 Tema 1-4 Edisi Tahun 2017
RPP Matematika Kurikulum 2013 Kelas 4 Semester 1 Edisi 2017
RPP Kurikulum 2013 Kelas 4 Tema 1-5 Edisi Revisi

Selasa, 24 Oktober 2017

Silabus PAIBP K-13 SD Hasil Revisi 2017

Silabus PAIBP K-13 SD Hasil Revisi 2017

Seperti kami kutip dalam PENDAHULUAN Materi ini adalah:

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan pendidikan yang secara mendasar menumbuh kembangkan akhlak siswa melalui pembiasaan dan pengamalan ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah).Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai suatu mata pelajaran diberikan pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK, baik yang bersifat kokurikuler maupun ekstrakurikuler.

Download Gratis Silabus PAIBP Kurikulum 2013 Revisi 2017


Kompetensi, materi, dan pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dikembangkan melalui pertimbangan kepentingan hidup bersama secara damai dan harmonis (to live together in peace and harmony). Pembelajaran dilaksanakan berbasis aktivitas pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Penumbuhan dan pengembangan sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan pembudayaan untuk mengembangkan karakter siswa lebih lanjut. Sekolah sebagai taman yang menyenangkan untuk tumbuh berkembangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa yang menempatkan pengetahuan sebagai perilaku (behavior), tidak hanya berupa hafalan atau verbal.

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berlandaskan pada aqidah Islam yang berisi tentang keesaan Allah Swt. sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan bagi manusia dan alam semesta. Sumber lainnya adalah akhlak yang merupakan manifestasi dari aqidah, yang sekaligus merupakan landasan pengembangan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan pendidikan yang ditujukan untuk dapat menyerasikan, menyelaraskan dan menyeimbangkan antara iman, Islam, dan ihsan yang diwujudkan dalam:

1. Membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur (Hubungan manusia dengan Allah Swt.).

2. Menghargai, menghormati dan mengembangkan potensi diri yang berlandaskan pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (Hubungan manusia dengan diri sendiri).

3. Menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama serta menumbuhkembangkan akhlak mulia dan budi pekerti luhur (Hubungan manusia dengan sesama). 

4. Penyesuaian mental keislaman terhadap lingkungan fisik dan sosial (Hubungan manusia dengan lingkungan alam).

Berdasarkan pada prinsip di atas, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dikembangkan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam rahmatan lilalamin yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam yang humanis, toleran, demokratis, dan multikultural.
Islam yang humanis berarti memandang kesatuan manusia sebagai mahluk ciptaan Allah, memiliki asal-usul yang sama, menghidupkan rasa perikemanusiaan, dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Nilai-nilai Islam humanis yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa SD/MI diantaranya adalah: kasih sayang, peduli sesama, kerja sama, hormat dan patuh kepada orang tua dan guru, berkata baik, sopan dan santun, ikhlas, hidup tertib, dan hidup sederhana.

Islam yang toleran mengandung arti bersikap menghargai pendapat, pandangan, kepercayaan, atau kebiasaan yang berbeda dengan pendirian seseorang, juga tidak memaksa, tetap berlaku baik, lemah lembut, dan saling memaafkan. Nilai-nilai Islam toleran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa SD/MI di antaranya adalah: sifat pemaaf, saling menghargai, saling mengingatkan, dan berbaik sangka.

Demokratis berarti yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi sesama dengan mengutamakan kebebasan berekspresi, berkumpul dan mengemukakan pendapat sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku.Nilai-nilai Islam demokratis yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa SD/MI di antaranya adalah: teguh pendirian, disiplin, tanggung jawab, dan berbaik sangka.

Multikultural berarti bersikap mengakui, akomodatif, dan menghormati perbedaan dan keragamaan budaya, untuk mencari dan memudahkan hubungan sosial, serta gotong royong demi mencapai kebaikan bersama. Nilai-nilai multikultural dalam Islam yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa SD/MI di antaranya adalah: kerja sama, tolong-menolong, mengendalikan diri, waspada, berbaik sangka, dan hidup rukun

Silabus ini disusun dengan format dan penyajian/penulisan yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru. Penyederhanaan format dimaksudkan agar penyajiannya lebih efisien, namun lingkup dan substansinya tidak berkurang, serta tetap mempertimbangkan tata urutan (sequence) materi dan kompetensinya. Penyusunan silabus ini dilakukan dengan prinsip keselarasan antara ide, desain, dan pelaksanaan kurikulum; mudah diajarkan oleh guru (teachable); mudah dipelajari oleh siswa (learnable); terukur pencapainnya (measurable), dan bermakna untuk dipelajari (worth to learn) sebagai bekal untuk kehidupan dan kelanjutan pendidikan siswa.

Silabus ini merupakan acuan bagi guru dalam melakukan pembelajaran agar siswa mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari. Upaya peningkatan keimanana dan ketakwaan tersebut dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam rahmatan lilalamin yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam yang humanis, toleran, demokratis, dan multikultural.

Silabus ini bersifat fleksibel, kontekstual, dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran, serta mengakomodasi keungulan-keunggulan lokal. Atas dasar prinsip tersebut, komponen silabus mencakup kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran. Uraian pembelajaran yang terdapat dalam silabus merupakan alternatif kegiatan yang dirancang berbasis aktivitas. Pembelajaran tersebut merupakan alternatif dan inspiratif sehingga guru dapat mengembangkan berbagai model yang sesuai dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran. Dalam melaksanakan silabus ini guru diharapkan kreatif dalam pengembangan materi, pengelolaan proses pembelajaran, penggunaan metode dan model pembelajaran, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta tingkat perkembangan kemampuan kemampuan siswa.

3.Kompetensi yang Diharapkan Setelah Siswa Mempelajari Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam hal keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang

Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pendidikan ini kemudian dirumuskan secara khusus dalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai berikut:

1. menumbuh kembangkan aqidah melalui pemberian, pembinaan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman siswa tentang Agama Islam sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.; dan

2. mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia.

C. Kompetensi yang Diharapkan Setelah Siswa Mempelajari Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

Kompetensi yang Diharapkan setelah siswa mempelajari Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SD/MI dapat dilihat pada Tabel Peta Kompetensi yang memberikan gambaran umum tentang capaian kompetensi mulai SD/MI sampai dengan SMA/MA/SMK/MAK.


Terima kasih telah berkunjung di blog kami ini semoga bermanfaat

Rabu, 11 Oktober 2017

Aplikasi (KBM) Kriteria Belajar Minimal KK-13 SMP/MTs Revisi 2017

Kriteria Belajar Minimal KK-13 SMP/MTs Revisi 2017



Seringkali kita sebagai guru juga salah mengucapkan istilah pada pendidikan.

Mengapa salah ucap?

Yeach masih nanya juga salah ya salah haha ... 

Baca juga: KBM KK-13 SD/MI Kelas 1 sampai Kelas 6 (Aplikasi Excel)

Maksud saya buka menertawakan malah saya sendiri juga salah mengucapkan kok. Begini Istilah yang sudah mendarah daging pada hati sanubari guru yang sekian lama lengket kayak perangko, tiba-tiba pada tahun 2017 diadakan perubahan istilah. 

Apa itu perubahan istilah ?

Begini Istilah baru dari Kriteria belajar Minimal (KBM) itu kan berasal dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), benar begitu ... ?

Baiklah ... bagi bapak/ibu guru SMP/MTs pada semua mata pelajaran yang belum mempunyai apa yang kami maksud di atas tadi di bawah ini telah kami siapkan Kriteria Belajar Minimal KK-13 SMP/MTs Revisi 2017 yang kami format secara mudah dengan Mc. Excel sederhana, berikut menu download nya.

Demikian materi Kriteria Belajar Minimal KK-13 SMP/MTs Revisi 2017 semoga bermanfaat.